“ IduL fitri”
(Kemerdekaan,
Kemenangan Dan Prilaku Positif )
Oleh: Edi
Sucipno
الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر
الله أكبر الله أكبر الله أكبر
اَلْحَمْدُ لِلّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ نَحْمَدُهُ
وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَتُوْبُ إِلَيْهِ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ
شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ
لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. اَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلهَ اِلاَّ اللهُ
وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى ءَالِهِ
وَاَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُ اِلَى يَوْمِ الدِّيْن
اَمَّا بَعْدُ: فَيَاعِبَادَ اللهِ : اُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي
بِتَقْوَ اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِى
الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ: يَااَيُّهَا الَّذِيْنَ اَمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ
تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ اِلاَّ وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ
الله أكبر الله أكبر الله أكبر
Kaum Muslimin
Yang Berbahagia.
Pagi ini kita
memiliki perasaan yang sama, yakni gembira. Gembira bukan karena banyak makanan
di rumah kita, bukan karena uang kita lebih dari cukup atau bukan pula karena
pakaian kita baru. Tapi kita gembira karena berada dalam kesucian jiwa, kebersihan
hati setelah melaksanakan ibadah ramadhan. Rasulullah Saw bersabda:
إنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ فَرَضَ صِيَامَ
رَمَضَانَ وَسَنَنْتُ قِيَامَهُ فَمَنْ صَامَهُ وَقَامَهُ إِحْتِسَابًا خَرَجَ
مِنَ الذُّنُوْبِ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ.
Artinya:
Allah yang Maha
Mulia lagi Maha Tinggi mewajibkan puasa ramadhan dan aku mensunnahkan shalat malam
harinya. Barangsiapa puasa ramadhan dan shalat malam dengan mengharap ridha
Allah, maka dia keluar dari dosanya seperti bayi yang dilahirkan ibunya (HR.
Ahmad).
Karena itu
seharusnya kita bersedih karena ramadhan yang sudah berlalu belum kita jalani
ibadah di dalamnya dengan penuh kesungguhan, banyak di antara kita yang
berpuasa hanya tidak makan dan tidak minum, shalat tarawih hanya mengejar
jumlah rakaat tanpa kekhusyuan, tilawah alquran yang hanya mengejar target
khatam tanpa berusaha memahaminya sampai begitu sayang kita kepada harta
sehingga tidak mau bersedekah atau hanya sedikit sedekah harta yang kita
keluarkan dibandingkan dengan banyaknya harta yang kita miliki. Padahal belum
tentu tahun depan ramadhan bisa kita dapati lagi karena mungkin saja umur kita
tidak sampai pada ramadhan tahun depan sebagaimana hal itu dialami oleh orang
tua kita, saudara-saudara kita, teman dan jamaah kita hingga tokoh-tokoh kita
yang sudah lebih dahulu dipanggil oleh Allah Swt, karenanya kita doakan mereka
yang sudah mendahului kita semoga diampuni dosa-dosa mereka, diluaskan kubur
mereka dan dimasukkan mereka ke dalam surga yang penuh kenikmatan oleh Allah
Swt.
الله أكبر الله أكبر الله أكبر
Saudara-saudaraku,
Bagi muslim yang diterima puasanya karena mampu menundukan hawa
nafsu duniawi selama bulan ramadhan dan mengoptimalkan ibadah dengan penuh
keikhlasan, maka Idul Fitri adalah hari kemerdekaan dan kemenangan sejati,
dimana hari ini Allah Swt akan memberikan penghargaan teramat istimewa yang
selalu dinanti-nanti oleh siapapun, termasuk para nabi dan orang-orang shaleh,
yaitu ridha dan magfirah-Nya, sebagai ganjaran atas amal baik
yang telah dilakukannya.[1]
Allah Swt juga pernah berjanji, tak satupun kaum muslimin yang berdoa pada hari
raya Idul Fitri, kecuali akan dikabulkan.[2]
Firman Allah Swt:
Artinya:
dan
apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, Maka jawablah, bahwasanya
Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia
memohon kepada-Ku, Maka hendaklah mereka itu memenuhi segala perintah-Ku dan
hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.
(QS.Al-Baqarah [2]: 186)
Makna kemerdekaan jika dipahami tidak berlandaskan dengan keimanan,
dan juga tidak bertujuan pada fitrahnya manusia, maka hari kemerdekaan akan
menjadi peringatan yang penuh asesori, tak punya arti selain perayaan yang
menghabiskan biaya, yang tidak akan mewariskan hakekat arti kemerdekaan kepada
generasi selanjutnya dan pada akhirnya arti kemerdekaan ditentukan oleh
masyarakat yang lebih dominan, menguasai dan mengatur lalu lalang informasi,
tanpa pernah secara tulus mereka melakukan apapun demi kehidupan masyarakat
Indonesia yang lebih baik. Masyarakat dominan ini tak selalu bersuku dan
berbangsa, mereka adalah masyarakat penyembah dan pengabdi “kenikmatan hidup
saat masih hidup”. Merdeka adalah menikmati hidup semaksimal mungkin selagi
sempat. Masyarakat ini akan mempertahankan dan memperpanjang waktu kekuasaan
menikmati hidup dengan mengabaikan manusia lain yang tidak masuk di kelompok
ini.
Hakekat
kemerdekaan yang dapat dirasakan selama kita berada di bulan ramadhan dan hari raya
ini, adalah:
1.
Merdeka dari pengaruh asing syaithan yang
merupakan musuh yang nyata dan dibelenggu oleh Allah selama bulan ramadhan.
Allah Swt telah berfirman :
Artinya:
"Sesungguhnya
syaithan adalah musuh yang nyata bagimu maka jadikanlah dia musuh bukan teman"
(QS. Faathir [35]: 6)
2.
Merdeka dari penjajahan hawa nafsu terhadap
jiwa yang fitri. Kemerdekaan yang sesungguhnya adalah kemerdekaan dari hawa
nafsu dan tetap sebagai jiwa yang fitrah sebagaimana jiwa ini dilahirkan ke
dunia. Dalam alquran Allah Swt berfirman:
Artinya:
“Dan
ingatlah ketika Tuhan mengeluarkanmu dari sulbi (tulang belakang) anak cucu
Adam keturunan mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap ruh mereka dengan
berfirman kepada mereka: ‘Bukankah Aku ini Tuhanmu?’. Mereka menjawab: ‘Betul,
Engkaulah Tuhan kami, kami bersaksi’. Kami lakukan yang demikian itu agar di
hari kiamat kamu tidak mengatakan; ‘Sesungguhnya kami adalah orang yang lalai
tentang keesaan Allah ini’ (QS. Al-A’raf [7]: 172)
Islam
adalah agama yang fitrah (suci), tidak menjadikan tuhan kecuali hanya kepada
Allah. Jiwa yang fitrah tidak menghamba kecuali hanya kepada Allah. Tidak
menghamba kepada nafsu, manusia atau yang lain selain kepada yang berhak
dihamba, yaitu Allah Swt. Tuhan yang menciptakan langit dan bumi serta
menguasainya. Allah Swt berfiman:
Artinya:
Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus
kepada agama Allah, tetaplah atas fitrah
Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada
perubahan pada fitrah Allah. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan
manusia tidak mengetahui (QS. Al-Rum [30]: 30).
3.
Merdeka dari
dosa yang menghimpit dan memberatkan jiwa, karena setelah sebulan penuh
berpuasa Allah akan menghapus dosa-dosa kita. Ampunan Allah atas dosa-dosa
inilah yang akan membebaskan jiwa yang merdeka dan menyelamatkan kita dari
siksa neraka dan dimasukkan ke dalam surga.
الله أكبر
الله أكبر الله أكبر
Kaum
Muslimin Yang Berbahagia.
Kemerdekaan juga merupakan wujud dari kemenangan dan
keberuntungan. Kemenangan dan keberuntungan yang besar lagi mulia didapatkan
berkat pelaksanaan semua kewajiban-kewajiban hamba kepada Allah Swt serta
melaksanakan sunnah Rasulullah Saw selama berada di bulan ramadhan hingga
syawal, hasil dari kemenangan yang harus diraih semua orang telah dirumuskan
Allah dalam alquran yakni QS. Al-Baqarah ayat 183-187, QS. Al-Ahzab ayat 35,
QS. Ad-Dukhan ayat 2 dan QS. Al-Qadar 1-5)
Di antara kemenangan dan keberuntungan itu dapat dilihat
dari:
1.
Meningkatnya
kadar iman dan taqwa, sehingga memiliki kemantapan hidup dan istiqomah.
2.
Memperoleh
ampunan dosa dan kesalahan, sehingga menjadi manusia fitrah yang penuh
kesegaran dengan semangat yang kuat dan tinggi.
3.
Terbentuknya
kesadaran hukum yang akurat dan penuh disiplin diri.
4.
Meraih
nilai ibadah melebihi seribu bulan dengan keberkatan yang dijanjikan Allah Swt.
5.
Terbina
mukmin terbaik melalui upaya mempelajari alquran serta mengajarkan dan
mengamalkannya.
6.
Melestarikan
dan mengembangkan kasih sayang atas dasar kesucian hati dan pembebasan diri
sebagai perwujudan hasil rahmah, maghfirah dan itqun minan nar.
Dengan hasil dan kemenangan yang
dicapai itu akan terbentuk umat yang terbaik guna dan menjadi insan kamil. Allah
Swt berfirman:
Artinya:
kamu adalah
umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf,
dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya ahli kitab
beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman,
dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik. (QS. Al-Imran [3]: 110)
saudara-saudaraku,
Idul Fitri diartikan sebagai puncak atau klimaks dari
pelaksanaan ibadah puasa di bulan ramadhan. Idul Fitri sendiri memiliki
keterkaitan makna dengan tujuan akhir yang ingin diraih dari pelaksanaan
kewajiban berpuasa. sudah sepantasnya momentum Idul Fitri dipahami sebagai
momentum pembinaan karakter individual yang berdampak pada karakter sosial. Masyarakat
dibentuk oleh individu-individu. Basis masyarakat Islam adalah individu.
Individu mencerminkan kehidupan sosial. Jika individu sebagai anggota dari
masyarakat sosialnya baik maka masyarakatnya pun akan baik.
Puasa jika dilihat dari dhahirnya merupakan ibadah
individual karena hanya dirinyalah yang tahu dirinya berpuasa ataukah tidak.
Tetapi jika digali lebih jauh, karena masyarakat dibentuk oleh individu, maka
puasa yang tujuannya melatih individu muslim, jelas memiliki output yang nyata
bagi kehidupan sosial yang lebih luas.
Seseorang yang berhasil dalam puasanya dapat dilihat dari
keseharian setelah menjalani puasa di hari-hari atau bulan yang lain selain ramadhan.
Ramadhan adalah semacam sekolah ruhani, implementasi nyatanya adalah pada
hari-hari setelahnya. Jika dalam puasa tidak boleh menggunjing dan mengadu
domba orang lain, maka orang yang berhasil dalam puasanya tidak akan melakukan
hal itu di hari yang lain. Inilah tonggak utama dalam pembentukan karakter
sosial kemerdekaan, kemenangan dan prilaku positif.[3]
الله أكبر الله
أكبر الله أكبر
Kaum Muslimin
Yang Berbahagia.
Setidaknya ketika kita merayakan Idul Fitri minimal ada beberapa prilaku/sikap positif yang harus kita lakukan yaitu:
1.
Adanya
rasa penuh harap kepada Allah Swt (Raja’). Harap akan diampuni dosa-dosa
yang berlalu. Janji Allah Swt akan ampunan itu sebagai buah dari “kerja keras”
sebulan lamanya menahan hawa nafsu dengan berpuasa. Sebagaimana sabda
Rasulullah Saw:
مَنْ
صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
Artinya:
Barang siapa yang puasa di bulan
ramadhan karena iman dan penuh pengharapan dan ridho Allah, maka Allah akan
menghapuskan dosanya setahun yang telah berlalu. (HR. Ahmad No.
6873).
2.
Melakukan
evaluasi diri pada ibadah puasa yang telah dikerjakan. Apakah puasa yang kita
lakukan telah memenuhi syarat dan bermakna, atau hanya puasa sekedar menahan
lapar dan dahaga saja di siang bulan ramadhan, tetapi hati kita, lidah kita
tidak bisa ditahan dari perbuatan atau perkataan yang menyakitkan orang lain.[4]
3.
Mempertahankan
nilai kesucian yang baru saja diraih. Tidak kehilangan semangat dalam ibadah
karena lewatnya bulan ramadhan, karena predikat taqwa seharusnya berkelanjutan
hingga akhir hayat. Allah Swt berfirman:
Artinya:
Hai orang-orang
yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan
janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam Keadaan beragama Islam. (QS. Ali Imran [3]: 102)
4. Melakukan
kembali berpuasa dibulan syawal sebanyak enam hari kecuali di awal syawal upaya
melengkapi dan sekaligus meningkatkan amal ibadah kita. Sabda Nabi Muhammad
Saw:
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ وَسِتًّا مِنْ شَوَّالٍ
فَقَدْ صَامَ الدَّهْر
Artinya:
Barang siapa yang berpuasa di bulan
ramadhan dan dilanjutkan puasa enam hari di bulan syawal, maka sesungguhnya ia
telah berpuasa selama satu tahun (HR. Ahmad No. 6873)
5.
Berusaha
untuk membangun komitmen dalam diri dalam meningkatkan (makna syawal) atau
perbaikan (islah) yakni: islahul aqidah, ibadah, akhlak dan jamaah.
Saudara-saudaraku,
Inilah sebenarnya hakekat idul fitri dalam upaya meraih
kemerdekaan, kemenangan dan prilaku yang positif yang harus diketahui, dipahami
dan dimaknakan dalam kehidupan kita secara individu, baik secara pribadi
muslim, beriman dan bertaqwa yang hidup pada tatanan umat beragama, sosial,
budaya, berbangsa dan bernegara. Semoga terwujud manusia fitri yang kamil.
Amiin.
[1] Muhammad bin Ziyad, berkata: "Ketika itu aku bersama Abu
Umamah Al-Bahili ra dan sebagian sahabat Nabi Saw yang lain, lalu apabila
mereka pulang sebagian mengucapkan kepada sebagian lainnya: (Taqabbalallahu
minna waminkum) (Semoga Allah menerima amal kami dan kalian), Imam Ahmad bin Hanbal berkata:
"Sanadnya baik." Dari Ibnu At-Turkimani dalam kitabnya Al-Jauhar An-Naqiy Hasyiah
Al-Baihaqi (3/320-321).
[2] QS. Al-Baqarah
[2]: 186



Categories :
ISLAM DAN ILMU


0 komentar:
Post a Comment