Pages

Sunday, October 18, 2015

Materi Khutbah “ IduL fitri” (Kemerdekaan, Kemenangan Dan Prilaku Positif ) Oleh: Edi Sucipno



“ IduL fitri”
(Kemerdekaan, Kemenangan Dan Prilaku Positif )
Oleh: Edi Sucipno

الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر
اَلْحَمْدُ لِلّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَتُوْبُ إِلَيْهِ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. اَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى ءَالِهِ وَاَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُ اِلَى يَوْمِ الدِّيْن
اَمَّا بَعْدُ: فَيَاعِبَادَ اللهِ : اُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَ اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِى الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ: يَااَيُّهَا الَّذِيْنَ اَمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ اِلاَّ وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

الله أكبر الله أكبر الله أكبر
Kaum Muslimin Yang Berbahagia.
Pagi ini kita memiliki perasaan yang sama, yakni gembira. Gembira bukan karena banyak makanan di rumah kita, bukan karena uang kita lebih dari cukup atau bukan pula karena pakaian kita baru. Tapi kita gembira karena berada dalam kesucian jiwa, kebersihan hati setelah melaksanakan ibadah ramadhan. Rasulullah Saw bersabda:
إنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ فَرَضَ صِيَامَ رَمَضَانَ وَسَنَنْتُ قِيَامَهُ فَمَنْ صَامَهُ وَقَامَهُ إِحْتِسَابًا خَرَجَ مِنَ الذُّنُوْبِ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ.
Artinya:
Allah yang Maha Mulia lagi Maha Tinggi mewajibkan puasa ramadhan dan aku mensunnahkan shalat malam harinya. Barangsiapa puasa ramadhan dan shalat malam dengan mengharap ridha Allah, maka dia keluar dari dosanya seperti bayi yang dilahirkan ibunya (HR. Ahmad).
Karena itu seharusnya kita bersedih karena ramadhan yang sudah berlalu belum kita jalani ibadah di dalamnya dengan penuh kesungguhan, banyak di antara kita yang berpuasa hanya tidak makan dan tidak minum, shalat tarawih hanya mengejar jumlah rakaat tanpa kekhusyuan, tilawah alquran yang hanya mengejar target khatam tanpa berusaha memahaminya sampai begitu sayang kita kepada harta sehingga tidak mau bersedekah atau hanya sedikit sedekah harta yang kita keluarkan dibandingkan dengan banyaknya harta yang kita miliki. Padahal belum tentu tahun depan ramadhan bisa kita dapati lagi karena mungkin saja umur kita tidak sampai pada ramadhan tahun depan sebagaimana hal itu dialami oleh orang tua kita, saudara-saudara kita, teman dan jamaah kita hingga tokoh-tokoh kita yang sudah lebih dahulu dipanggil oleh Allah Swt, karenanya kita doakan mereka yang sudah mendahului kita semoga diampuni dosa-dosa mereka, diluaskan kubur mereka dan dimasukkan mereka ke dalam surga yang penuh kenikmatan oleh Allah Swt.
الله أكبر الله أكبر الله أكبر
Saudara-saudaraku,

Bagi muslim yang diterima puasanya karena mampu menundukan hawa nafsu duniawi selama bulan ramadhan dan mengoptimalkan ibadah dengan penuh keikhlasan, maka Idul Fitri adalah hari kemerdekaan dan kemenangan sejati, dimana hari ini Allah Swt akan memberikan penghargaan teramat istimewa yang selalu dinanti-nanti oleh siapapun, termasuk para nabi dan orang-orang shaleh, yaitu ridha dan magfirah-Nya, sebagai ganjaran atas amal baik yang telah dilakukannya.[1] Allah Swt juga pernah berjanji, tak satupun kaum muslimin yang berdoa pada hari raya Idul Fitri, kecuali akan dikabulkan.[2]
Firman Allah Swt:    
Artinya:
dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, Maka jawablah, bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, Maka hendaklah mereka itu memenuhi segala perintah-Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran. (QS.Al-Baqarah [2]: 186)

Makna kemerdekaan jika dipahami tidak berlandaskan dengan keimanan, dan juga tidak bertujuan pada fitrahnya manusia, maka hari kemerdekaan akan menjadi peringatan yang penuh asesori, tak punya arti selain perayaan yang menghabiskan biaya, yang tidak akan mewariskan hakekat arti kemerdekaan kepada generasi selanjutnya dan pada akhirnya arti kemerdekaan ditentukan oleh masyarakat yang lebih dominan, menguasai dan mengatur lalu lalang informasi, tanpa pernah secara tulus mereka melakukan apapun demi kehidupan masyarakat Indonesia yang lebih baik. Masyarakat dominan ini tak selalu bersuku dan berbangsa, mereka adalah masyarakat penyembah dan pengabdi “kenikmatan hidup saat masih hidup”. Merdeka adalah menikmati hidup semaksimal mungkin selagi sempat. Masyarakat ini akan mempertahankan dan memperpanjang waktu kekuasaan menikmati hidup dengan mengabaikan manusia lain yang tidak masuk di kelompok ini.
Hakekat kemerdekaan yang dapat dirasakan selama kita berada di bulan ramadhan dan hari raya ini, adalah:
1.    Merdeka dari pengaruh asing syaithan yang merupakan musuh yang nyata dan dibelenggu oleh Allah selama bulan ramadhan. Allah Swt telah berfirman :
Artinya:
"Sesungguhnya syaithan adalah musuh yang nyata bagimu maka jadikanlah dia musuh bukan teman" (QS. Faathir [35]: 6)

2.    Merdeka dari penjajahan hawa nafsu terhadap jiwa yang fitri. Kemerdekaan yang sesungguhnya adalah kemerdekaan dari hawa nafsu dan tetap sebagai jiwa yang fitrah sebagaimana jiwa ini dilahirkan ke dunia. Dalam alquran Allah Swt  berfirman:
Artinya:
“Dan ingatlah ketika Tuhan mengeluarkanmu dari sulbi (tulang belakang) anak cucu Adam keturunan mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap ruh mereka dengan berfirman kepada mereka: ‘Bukankah Aku ini Tuhanmu?’. Mereka menjawab: ‘Betul, Engkaulah Tuhan kami, kami bersaksi’. Kami lakukan yang demikian itu agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan; ‘Sesungguhnya kami adalah orang yang lalai tentang keesaan Allah ini’ (QS. Al-A’raf [7]: 172)

Islam adalah agama yang fitrah (suci), tidak menjadikan tuhan kecuali hanya kepada Allah. Jiwa yang fitrah tidak menghamba kecuali hanya kepada Allah. Tidak menghamba kepada nafsu, manusia atau yang lain selain kepada yang berhak dihamba, yaitu Allah Swt. Tuhan yang menciptakan langit dan bumi serta menguasainya. Allah Swt berfiman:  

Artinya:
Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah,  tetaplah atas fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui (QS. Al-Rum [30]: 30).

3.    Merdeka dari dosa yang menghimpit dan memberatkan jiwa, karena setelah sebulan penuh berpuasa Allah akan menghapus dosa-dosa kita. Ampunan Allah atas dosa-dosa inilah yang akan membebaskan jiwa yang merdeka dan menyelamatkan kita dari siksa neraka dan dimasukkan ke dalam surga.

الله أكبر الله أكبر الله أكبر
Kaum Muslimin Yang Berbahagia.

Kemerdekaan juga merupakan wujud dari kemenangan dan keberuntungan. Kemenangan dan keberuntungan yang besar lagi mulia didapatkan berkat pelaksanaan semua kewajiban-kewajiban hamba kepada Allah Swt serta melaksanakan sunnah Rasulullah Saw selama berada di bulan ramadhan hingga syawal, hasil dari kemenangan yang harus diraih semua orang telah dirumuskan Allah dalam alquran yakni QS. Al-Baqarah ayat 183-187, QS. Al-Ahzab ayat 35, QS. Ad-Dukhan ayat 2 dan QS. Al-Qadar 1-5)

Di antara kemenangan dan keberuntungan itu dapat dilihat dari:
1.    Meningkatnya kadar iman dan taqwa, sehingga memiliki kemantapan hidup dan istiqomah.
2.    Memperoleh ampunan dosa dan kesalahan, sehingga menjadi manusia fitrah yang penuh kesegaran dengan semangat yang kuat dan tinggi.
3.    Terbentuknya kesadaran hukum yang akurat dan penuh disiplin diri.
4.    Meraih nilai ibadah melebihi seribu bulan dengan keberkatan yang dijanjikan Allah Swt.
5.    Terbina mukmin terbaik melalui upaya mempelajari alquran serta mengajarkan dan mengamalkannya.
6.    Melestarikan dan mengembangkan kasih sayang atas dasar kesucian hati dan pembebasan diri sebagai perwujudan hasil rahmah, maghfirah dan itqun minan nar.

Dengan hasil dan kemenangan yang dicapai itu akan terbentuk umat yang terbaik guna dan menjadi insan kamil. Allah Swt berfirman:
Artinya:
kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya ahli kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik. (QS. Al-Imran [3]: 110)

saudara-saudaraku,
Idul Fitri diartikan sebagai puncak atau klimaks dari pelaksanaan ibadah puasa di bulan ramadhan. Idul Fitri sendiri memiliki keterkaitan makna dengan tujuan akhir yang ingin diraih dari pelaksanaan kewajiban berpuasa. sudah sepantasnya momentum Idul Fitri dipahami sebagai momentum pembinaan karakter individual yang berdampak pada karakter sosial. Masyarakat dibentuk oleh individu-individu. Basis masyarakat Islam adalah individu. Individu mencerminkan kehidupan sosial. Jika individu sebagai anggota dari masyarakat sosialnya baik maka masyarakatnya pun akan baik.

Puasa jika dilihat dari dhahirnya merupakan ibadah individual karena hanya dirinyalah yang tahu dirinya berpuasa ataukah tidak. Tetapi jika digali lebih jauh, karena masyarakat dibentuk oleh individu, maka puasa yang tujuannya melatih individu muslim, jelas memiliki output yang nyata bagi kehidupan sosial yang lebih luas.

Seseorang yang berhasil dalam puasanya dapat dilihat dari keseharian setelah menjalani puasa di hari-hari atau bulan yang lain selain ramadhan. Ramadhan adalah semacam sekolah ruhani, implementasi nyatanya adalah pada hari-hari setelahnya. Jika dalam puasa tidak boleh menggunjing dan mengadu domba orang lain, maka orang yang berhasil dalam puasanya tidak akan melakukan hal itu di hari yang lain. Inilah tonggak utama dalam pembentukan karakter sosial kemerdekaan, kemenangan dan prilaku positif.[3]

الله أكبر الله أكبر الله أكبر
Kaum Muslimin Yang Berbahagia.

Setidaknya ketika kita merayakan Idul Fitri minimal ada  beberapa prilaku/sikap positif  yang harus kita lakukan yaitu:

1.        Adanya rasa penuh harap kepada Allah Swt (Raja’). Harap akan diampuni dosa-dosa yang berlalu. Janji Allah Swt akan ampunan itu sebagai buah dari “kerja keras” sebulan lamanya menahan hawa nafsu dengan berpuasa. Sebagaimana sabda Rasulullah Saw:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Artinya:
Barang siapa yang puasa di bulan ramadhan karena iman dan penuh pengharapan dan ridho Allah, maka Allah akan menghapuskan dosanya setahun yang telah berlalu. (HR. Ahmad No. 6873).

2.        Melakukan evaluasi diri pada ibadah puasa yang telah dikerjakan. Apakah puasa yang kita lakukan telah memenuhi syarat dan bermakna, atau hanya puasa sekedar menahan lapar dan dahaga saja di siang bulan ramadhan, tetapi hati kita, lidah kita tidak bisa ditahan dari perbuatan atau perkataan yang menyakitkan orang lain.[4]

3.        Mempertahankan nilai kesucian yang baru saja diraih. Tidak kehilangan semangat dalam ibadah karena lewatnya bulan ramadhan, karena predikat taqwa seharusnya berkelanjutan hingga akhir hayat. Allah Swt berfirman:

Artinya:
Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam Keadaan beragama Islam. (QS. Ali Imran [3]: 102)

4.   Melakukan kembali berpuasa dibulan syawal sebanyak enam hari kecuali di awal syawal upaya melengkapi dan sekaligus meningkatkan amal ibadah kita. Sabda Nabi Muhammad Saw:
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ وَسِتًّا مِنْ شَوَّالٍ فَقَدْ صَامَ الدَّهْر
Artinya:
Barang siapa yang berpuasa di bulan ramadhan dan dilanjutkan puasa enam hari di bulan syawal, maka sesungguhnya ia telah berpuasa selama satu tahun (HR. Ahmad No. 6873)

5.        Berusaha untuk membangun komitmen dalam diri dalam meningkatkan (makna syawal) atau perbaikan (islah) yakni: islahul aqidah, ibadah, akhlak dan jamaah.

Saudara-saudaraku,
Inilah sebenarnya hakekat idul fitri dalam upaya meraih kemerdekaan, kemenangan dan prilaku yang positif yang harus diketahui, dipahami dan dimaknakan dalam kehidupan kita secara individu, baik secara pribadi muslim, beriman dan bertaqwa yang hidup pada tatanan umat beragama, sosial, budaya, berbangsa dan bernegara. Semoga terwujud manusia fitri yang kamil. Amiin.


[1] Muhammad bin Ziyad, berkata: "Ketika itu aku bersama Abu Umamah Al-Bahili ra dan sebagian sahabat Nabi Saw yang lain, lalu apabila mereka pulang sebagian mengucapkan kepada sebagian lainnya: (Taqabbalallahu minna waminkum) (Semoga Allah menerima amal kami dan kalian), Imam Ahmad bin Hanbal berkata: "Sanadnya baik." Dari Ibnu At-Turkimani dalam kitabnya Al-Jauhar An-Naqiy Hasyiah Al-Baihaqi (3/320-321).
[2] QS. Al-Baqarah [2]: 186
[3] مجموعة الخطبات احمد الوائلى
[4] Ungkapan Umar bin Khathab

0 komentar:

Post a Comment